Festival Dekorasi Kampung Betawi di Rawa Belong Angkat Kearifan Lokal dan Dorong Ekonomi Budaya Warga - Komunitas Todays

Menu

Mode Gelap
Wali Kota Jakarta Barat Hadiri Dialog Aspirasi KADIN, Dorong Sinergi Ekonomi Lintas Sektor PWI Tegaskan Negara Wajib Hadir Lindungi Wartawan, Bukan Sekadar Tanggung Jawab Moral PWI Pusat Tegaskan Kepemimpinan Kesit Budi Handoyo di PWI Provinsi DKI Jakarta PWI Pusat Prihatin Pencabutan Kartu Liputan Istana Wartawan CNN Indonesia PWI Pusat Kembali ke Rumah Lama, Awali Kepengurusan Baru dengan Doa Yatim Piatu

Berita · 10 Jun 2026 19:09 WIB

Festival Dekorasi Kampung Betawi di Rawa Belong Angkat Kearifan Lokal dan Dorong Ekonomi Budaya Warga


 Festival Dekorasi Kampung Betawi di Rawa Belong Angkat Kearifan Lokal dan Dorong Ekonomi Budaya Warga Perbesar

Jakarta, Komunitastodays.co,– Festival Dekorasi Kampung Betawi yang digelar di lingkungan RT 02 RW 15, Rawa Belong, Kelurahan Palmerah, Kecamatan Palmerah, Jakarta Barat, Rabu (10/6/2026), menjadi ajang pelestarian budaya sekaligus penguatan ekonomi masyarakat berbasis kearifan lokal Betawi.

Berbagai atraksi budaya ditampilkan dalam kegiatan tersebut, mulai dari pencak silat, seni pertunjukan, hingga sajian aneka kuliner khas Betawi. Selain itu, sejumlah rumah warga juga menampilkan ornamen dan arsitektur bernuansa Betawi yang menjadi daya tarik tersendiri dalam penilaian lomba dekorasi Kampung Betawi.

Tim penilai, Ubay, mengapresiasi upaya warga dalam melestarikan budaya Betawi yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

“Ini kali pertama saya melihat Kampung Betawi yang luar biasa. Kulinernya ada, arsitekturnya juga terlihat di beberapa rumah yang menjadi contoh. Ini tidak dibuat dalam satu malam, tetapi merupakan sampel masyarakat yang memang sudah melestarikan budaya Betawi dalam keseharian mereka,” ujarnya.

Menurut Ubay, berbagai produk budaya yang ditampilkan, seperti kue-kue Betawi yang diproduksi warga berdasarkan pesanan, menunjukkan bahwa budaya dapat menjadi sumber penghasilan masyarakat.

“Ini salah satu bentuk ekonomi budaya, di mana masyarakat bisa mengambil manfaat dari nilai-nilai budaya yang hidup dan menjadikannya sebagai sarana meningkatkan ekonomi mereka,” katanya.

Ia menjelaskan, aspek penilaian dalam lomba tidak hanya menitikberatkan pada dekorasi lingkungan, tetapi juga manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat, keberadaan seni pertunjukan, musik, kuliner, hingga arsitektur dan ornamen khas Betawi.

“Kalau semua unsur itu hidup di masyarakat dan dipergunakan, saya kira nilainya akan bagus,” tambahnya.

Ubay berharap konsep Kampung Betawi tidak hanya berkembang di satu wilayah, tetapi dapat diperluas ke kampung-kampung lain sebagai proyek percontohan.

“Kita berharap di kampung-kampung lain juga bisa ada dan tersebar minimal dalam satu wilayah dulu sebagai pilot project, kemudian berkembang ke wilayah lain di Jakarta hingga tingkat provinsi,” ungkapnya.

Ia menambahkan, program Kampung Betawi ke depan akan dibuat lebih berjenjang untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan budaya Betawi sebagai amanat peraturan yang menempatkan budaya Betawi sebagai salah satu budaya prioritas yang perlu mendapat dukungan pemerintah.

“Hari pertama ini kita ke Kelurahan Palmerah, kemudian nanti ke Kelurahan Slipi dan Kelurahan Kota Bambu Selatan,” jelasnya.

Sementara itu, Lurah Palmerah, Uki, menyatakan dukungannya terhadap pelaksanaan Festival Dekorasi Kampung Betawi. Menurutnya, kolaborasi antara kelurahan, pengurus RT/RW, dan masyarakat menjadi kunci sukses terselenggaranya kegiatan tersebut.

“Kami di kelurahan tentunya mendukung semua kegiatan. Saat ini memang ada lomba dekorasi Kampung Betawi dan Alhamdulillah kami bisa bersinergi dengan RT dan RW untuk mendukung kegiatan ini melalui sumber daya manusia maupun fasilitas yang kami miliki,” katanya.

Uki yang baru menjabat sekitar tiga minggu sebagai Lurah Palmerah mengaku terus berupaya mengoptimalkan berbagai potensi wilayah melalui kolaborasi dengan berbagai pihak.

“Baru tiga minggu saya memimpin wilayah Palmerah. Namun saya mencoba mengkolaborasikan potensi wilayah yang ada,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, Kelurahan Palmerah juga menggandeng Dinas Perpustakaan dan Kearsipan untuk mendukung kebutuhan pendidikan anak usia dini (PAUD) melalui penyediaan buku-buku bacaan dan edukasi.

“Insyaallah jika memang menjadi kebutuhan PAUD, kami akan bersurat ke dinas agar dapat memberikan dukungan dari sisi buku dan edukasinya. Untuk yang lainnya, saya juga mencoba merangkul berbagai pihak yang ada di wilayah ini,” tuturnya.

Ketua RT 02 RW 15, Abdul Manaf, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut, khususnya pengurus RW.

“Alhamdulillah, saya mengucapkan banyak terima kasih, khususnya kepada Bapak Ketua RW 15 dan seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan ini,” ucapnya.

Festival Dekorasi Kampung Betawi di Rawa Belong diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat identitas budaya Betawi di tengah masyarakat sekaligus mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif berbasis budaya lokal di Jakarta Barat.(Hend)

Artikel ini telah dibaca 43 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Wali Kota Jakarta Barat Terima Audiensi Pemuda Pelopor, Dorong Generasi Muda Jadi Agen Perubahan

10 June 2026 - 20:37 WIB

Kolaborasi Pers dan Perbankan: PWI Jaya-Bank Jakarta Dorong Karya Jurnalistik Edukatif

10 June 2026 - 20:16 WIB

Truk Terguling di Flyover Pesing, Sudis Gulkarmat Jakbar Bersihkan Tumpahan Solar dan Oli

10 June 2026 - 19:05 WIB

80 Peserta Ikuti Dialog Cinta Seni dan Budaya di Jakarta Barat

10 June 2026 - 19:00 WIB

Hadapi Risiko Pekerjaan Tergeser AI, Menaker Ajak Negara Asia Pasifik Perkuat Pelatihan Tenaga Kerja

10 June 2026 - 18:55 WIB

Wamenaker: LKS Bipartit Sarana Penting dalam Mencegah Perselisi han Hubungan Industrial Jakarta, Komunitastodays.co, — Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor menegaskan bahwa Lembaga Kerja Sama (LKS) Bipartit merupakan sarana penting dalam mencegah perselisihan hubungan industrial melalui penguatan komunikasi dan dialog antara pekerja dan pengusaha di tempat kerja. “LKS Bipartit hadir sebagai forum komunikasi dan konsultasi yang berfungsi memecahkan persoalan ketenagakerjaan secara dini sekaligus menciptakan ketenangan bekerja. Karena itu, LKS Bipartit tidak boleh dipandang sekadar sebagai kewajiban administratif perusahaan,” kata Afriansyah. Afriansyah menyampaikan hal tersebut saat membuka Webinar Sharing Session bertajuk “Menuju Hubungan Industrial Bebas Konflik melalui LKS Bipartit” yang diselenggarakan secara daring, Selasa (9/6/2026). Berdasarkan data Wajib Lapor Ketenagakerjaan Perusahaan (WLKP), hingga April 2026 tercatat sebanyak 28.236 LKS Bipartit telah terbentuk di berbagai pe rusahaan di Indonesia. Keberadaan forum tersebut dinilai memiliki peran strategis dalam memperkuat dialog sosial dan membangun hubungan industrial yang harmonis. Afriansyah mengatakan, berbagai perselisihan hubungan industrial umumnya tidak terjadi secara tiba-tiba. Perselisihan sering kali berawal dari komunikasi yang tersendat, aspirasi yang tidak tersampaikan, atau kebijakan perusahaan yang belum dipahami secara utuh oleh para pihak. “LKS Bipartit berperan sebagai ruang dialog awal, ruang klarifikasi, sekaligus mekanisme deteksi dini terhadap potensi persoalan di tingkat perusahaan,” ujarnya. Menurutnya, apabila forum tersebut berfungsi dengan baik, berbagai persoalan dapat dibicarakan sebelum berkembang menjadi perselisihan terbuka. Aspirasi pekerja dapat didengar lebih awal, sementara perusahaan memiliki ruang untuk menjelaskan kebijakan dan kondisi usaha secara terbuka sehingga solusi dapat dicari bersama. Ia menambahkan, semangat dialog dan musyawa rah tersebut sejalan dengan nilai-nilai Hubungan Industrial Pancasila yang terus didorong penerapannya di lingkungan kerja. “Kehadiran pemerintah dalam hubungan industrial bukan untuk memenangkan salah satu pihak, melainkan memastikan ruang dialog tetap terbuka, hak-hak pekerja terlindungi, dan keberlangsungan usaha tetap terjaga,” tegas Afriansyah. Melalui webinar ini, ia berharap pemahaman mengenai LKS Bipartit tidak berhenti pada aspek pemenuhan regulasi, tetapi berkembang menjadi praktik nyata yang dijalankan secara aktif dan dipercaya oleh pekerja maupun pengusaha. Dengan demikian, potensi perselisihan dapat dikenali, dibicarakan, dan diselesaikan sejak dini demi terciptanya hubungan industrial yang harmonis, produktif, dan berkelanjutan.(David)

10 June 2026 - 18:37 WIB

Trending di Berita