Jusuf Kalla: Krisis Ekonomi dan Politik Tidak Bisa Dipisahkan, Universitas Harus Hadir Memberikan Solusi - Komunitas Todays

Menu

Mode Gelap
Wali Kota Jakarta Barat Hadiri Dialog Aspirasi KADIN, Dorong Sinergi Ekonomi Lintas Sektor PWI Tegaskan Negara Wajib Hadir Lindungi Wartawan, Bukan Sekadar Tanggung Jawab Moral PWI Pusat Tegaskan Kepemimpinan Kesit Budi Handoyo di PWI Provinsi DKI Jakarta PWI Pusat Prihatin Pencabutan Kartu Liputan Istana Wartawan CNN Indonesia PWI Pusat Kembali ke Rumah Lama, Awali Kepengurusan Baru dengan Doa Yatim Piatu

Berita · 11 Jun 2026 08:51 WIB

Jusuf Kalla: Krisis Ekonomi dan Politik Tidak Bisa Dipisahkan, Universitas Harus Hadir Memberikan Solusi


 Jusuf Kalla: Krisis Ekonomi dan Politik Tidak Bisa Dipisahkan, Universitas Harus Hadir Memberikan Solusi Perbesar

Jakarta, Komunitastodays.co, – Program Studi Doktor Ilmu Manajemen Universitas Paramadina menyelenggarakan Seminar Publik Hybrid bertajuk “Kebijakan Ekonomi dan Manajemen Krisis” pada Selasa (9/6/2026) di Ruang Granada, Lantai 7 Gedung Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina Cipayung.

Seminar menghadirkan Wakil Presiden Republik Indonesia ke-10 dan ke-12, H. M. Jusuf Kalla, sebagai pembicara utama. Kegiatan dibuka oleh Ketua Program Studi Doktor Ilmu Manajemen Universitas Paramadina, Prof. Dr. Ahmad Badawi Saluy, dan dimoderatori oleh Rektor Universitas Paramadina, Prof. Dr. Didik J. Rachbini.

Dalam pemaparannya, Jusuf Kalla menegaskan bahwa sejarah Indonesia menunjukkan hubungan yang erat antara krisis ekonomi dan perubahan politik. Menurutnya, gejolak ekonomi yang tidak tertangani dengan baik sering kali berkembang menjadi krisis politik yang berdampak besar terhadap stabilitas nasional. “Krisis ekonomi selalu ada kaitannya dengan politik. Bung Karno turun karena krisis ekonomi yang kemudian berkembang menjadi krisis politik. Harga beras naik, BBM naik, orang melakukan demonstrasi, lalu muncul berbagai gejolak politik. Pak Harto juga demikian saat krisis 1998 hingga akhirnya turun setelah memimpin selama 32 tahun,” ujar Jusuf Kalla.

Ia menjelaskan bahwa salah satu indikator penting yang perlu diperhatikan dalam mengantisipasi krisis adalah kondisi nilai tukar rupiah. Menurutnya, nilai mata uang sangat ditentukan oleh tingkat kepercayaan masyarakat terhadap ekonomi nasional. “Mata uang itu soal supply dan demand. Banyak orang menyimpan dolar Amerika Serikat karena tidak percaya kepada rupiah. Semakin banyak orang menyimpan dolar, maka nilai rupiah akan semakin turun,” katanya.

Selain nilai tukar, Jusuf Kalla juga menyoroti pentingnya memahami kondisi pasar secara lebih komprehensif. Ia mengingatkan bahwa kondisi ekonomi tidak dapat diukur hanya dari ramainya pusat-pusat perbelanjaan. “Pasar itu ada dua, yaitu pasar modal dan pasar riil. Orang sering mengatakan mal masih ramai sehingga ekonomi dianggap baik-baik saja. Padahal orang datang ke mal belum tentu untuk berbelanja, bisa saja hanya mencari tempat yang nyaman atau ber-AC. Yang harus dilihat adalah bagaimana daya beli masyarakat di pasar riil,” jelasnya.

Menurut Jusuf Kalla, melemahnya pasar modal saat ini juga menunjukkan adanya persoalan kepercayaan investor. Investor hanya akan menanamkan modal apabila memiliki keyakinan bahwa perusahaan mampu menghasilkan keuntungan yang berkelanjutan. “Pasar modal turun karena masalah kepercayaan. Orang membeli saham karena percaya perusahaan itu akan menghasilkan laba. Ketika kepercayaan menurun, saham-saham dilepas. Dulu saham tambang sangat diminati, sekarang banyak yang mengalami penurunan. Saham perbankan juga mengalami tekanan sehingga banyak investor melepas kepemilikannya,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa tekanan ekonomi sering kali memunculkan berbagai persoalan sosial di masyarakat. Menurutnya, meningkatnya angka kriminalitas tidak dapat dilepaskan dari kondisi ekonomi yang memburuk. “Ketika banyak orang menganggur dan sulit memenuhi kebutuhan hidupnya, maka berbagai persoalan sosial akan muncul. Kita melihat kasus pencurian dan kejahatan jalanan yang ramai dibicarakan. Ini harus menjadi perhatian bersama karena ekonomi dan kondisi sosial saling berkaitan,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Jusuf Kalla menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam membantu mencari solusi atas berbagai persoalan ekonomi yang dihadapi bangsa. Menurutnya, universitas memiliki tanggung jawab tidak hanya dalam pendidikan, tetapi juga dalam menghasilkan penelitian yang dapat menjadi dasar perumusan kebijakan publik. “Tugas universitas pertama adalah menc…

Artikel ini telah dibaca 2 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Audiensi ke Pemkab Taput, Henry Sihombing Paparkan Program Membawa Tim Pelajar ke Ajang Internasional

11 June 2026 - 07:58 WIB

Wali Kota Jakarta Barat Terima Audiensi Pemuda Pelopor, Dorong Generasi Muda Jadi Agen Perubahan

10 June 2026 - 20:37 WIB

Kolaborasi Pers dan Perbankan: PWI Jaya-Bank Jakarta Dorong Karya Jurnalistik Edukatif

10 June 2026 - 20:16 WIB

Festival Dekorasi Kampung Betawi di Rawa Belong Angkat Kearifan Lokal dan Dorong Ekonomi Budaya Warga

10 June 2026 - 19:09 WIB

Truk Terguling di Flyover Pesing, Sudis Gulkarmat Jakbar Bersihkan Tumpahan Solar dan Oli

10 June 2026 - 19:05 WIB

80 Peserta Ikuti Dialog Cinta Seni dan Budaya di Jakarta Barat

10 June 2026 - 19:00 WIB

Trending di Berita