Diskusi Betawi di Harlah ke-38 Pesantren Asshiddiqiyah - Komunitas Todays

Menu

Mode Gelap
Wali Kota Jakarta Barat Hadiri Dialog Aspirasi KADIN, Dorong Sinergi Ekonomi Lintas Sektor PWI Tegaskan Negara Wajib Hadir Lindungi Wartawan, Bukan Sekadar Tanggung Jawab Moral PWI Pusat Tegaskan Kepemimpinan Kesit Budi Handoyo di PWI Provinsi DKI Jakarta PWI Pusat Prihatin Pencabutan Kartu Liputan Istana Wartawan CNN Indonesia PWI Pusat Kembali ke Rumah Lama, Awali Kepengurusan Baru dengan Doa Yatim Piatu

Metropolitan · 10 Sep 2023 10:03 WIB

Diskusi Betawi di Harlah ke-38 Pesantren Asshiddiqiyah


 Diskusi Betawi di Harlah ke-38 Pesantren Asshiddiqiyah Perbesar

Jakarta, Komunitastodays,- Pondok Pesantren Asshidiqqiyah yang didirikan oleh almarhum KH. Noer Muhammad, kini dilanjutkan oleh putranya, KH. Muhammad Mahrus Iskandar memasuki usia ke 38 tahun.

Banyak ragam kegiatan yang digelar dalam rangka memeriahkan harlahnya, salah satunya adalah diskusi tentang kebudayaan Betawi.

Dalam sambutannya, KH. Mahrus Iskandar, yang akrab dipanggil Gus Ayus mengatakan bahwa diskusi yang diselenggarakan, Sabtu (9/9/2023). Dimaksudkan agar santri mengenal kebudayaan dan tradisi masyarakat Betawi, karena keberadaan pesantren Asshiddiqiyah berawal dari jantung kota Jakarta, di mana masyarakat Betawi merupakan penduduk intinya.

Diskusi itu menghadirkan dua nara sumber, yaitu KH. Marullah Matali selaku Ketua Majelis Kaum Betawi (MKB) dan Ketua Umum Forum Betawi Rempug (FBR) KH. Lutfi Hakim serta dipandu oleh KH. Baihaki.

KH. Marullah Matali, yang sekarang ini masih menjabat sebagai Deputi Gubernur Bidang Pariwisata dan Budaya Propinsi DKI Jakarta menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada Pesantren Asshiddiqiyah yang memberi peluang dirinya untuk mengenalkan tradisi dan budaya masyarakat Betawi kepada para santri, mengingat pentingnya menjaga dan memajukan budaya lokal sebagai bagian dari budaya nasional.

Sementara KH. Lutfi Hakim memaparkan spirit religius Islam yang dimiliki masyarakat Betawi dalam praktik tradisi dan budayanya, semisal ondel-ondel.

Umumnya, Ondel-Ondel dibuat berpasangan, layaknya pengantin laki-laki dan perempuan dengan pakaian adat yang indah. Ondel-Ondel laki-laki dibuat berwarna merah yang melambangkan semangat dan keberanian.

Sedangkan Ondel-Ondel perempuan berwarna putih yang melambangkan kesucian dan kebaikan.

Untuk lebih menghidup suasana diskusi, KH. Lutfi melontarkan pertanyaan-pertanyaan seputar materi yang disampikan kepada para santri dengan memberikan hadiah uang seratus ribu rupiah bagi santri yang menjawab dengan benar.

“Dalam pecahan uang seratus ribu ini ada ikon budaya Betawi, yaitu Tari Topeng. Dahulu saat Pak Jokowi akan mencetak uang baru, kami masyarakat Betawi mengajukan kepada beliau agar ada ikon Betawi di salah satu pecahan mata uang kita. Alhamdulillah, dikabulkan bahkan pada pecahan yang terbesar,” pungkasnya.(Ferry)

Artikel ini telah dibaca 5,397 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

PWI Pusat dan Mahkamah Agung Bahas Pedoman Media Massa dan Media Sosial Peradilan

7 May 2026 - 16:57 WIB

Pemasangan Chattra Borobudur: APTABI Harap Ada Pengembangan Kajian dan Riset Strategis

6 May 2026 - 23:56 WIB

Tangkap Geliat Pasar EV, Kemnaker Siapkan SDM Terampil untuk Sektor Green Jobs

6 May 2026 - 09:01 WIB

Perkuat Ekosistem Ketenagakerjaan, Kemnaker Teken MoU dengan Wadhwani dan Indosat

6 May 2026 - 08:56 WIB

Perlindungan Optimal, Menaker Yassierli Tegaskan Jaminan Sosial untuk Semua Pekerja

5 May 2026 - 11:50 WIB

Gerak Cepat! Menaker Pastikan Hak Jaminan Sosial Korban Kecelakaan KA Bekasi Terpenuhi

5 May 2026 - 11:46 WIB

Trending di Berita