Di Universitas Semarang Waketum Partai Golkar Bamsoet Ajak Bangun Ketahanan Budaya Bangsa - Komunitas Todays

Menu

Mode Gelap
Wali Kota Jakarta Barat Hadiri Dialog Aspirasi KADIN, Dorong Sinergi Ekonomi Lintas Sektor PWI Tegaskan Negara Wajib Hadir Lindungi Wartawan, Bukan Sekadar Tanggung Jawab Moral PWI Pusat Tegaskan Kepemimpinan Kesit Budi Handoyo di PWI Provinsi DKI Jakarta PWI Pusat Prihatin Pencabutan Kartu Liputan Istana Wartawan CNN Indonesia PWI Pusat Kembali ke Rumah Lama, Awali Kepengurusan Baru dengan Doa Yatim Piatu

Nasional ยท 13 Jun 2022 07:32 WIB

Di Universitas Semarang Waketum Partai Golkar Bamsoet Ajak Bangun Ketahanan Budaya Bangsa


 Di Universitas Semarang Waketum Partai Golkar Bamsoet Ajak Bangun Ketahanan Budaya Bangsa Perbesar

Jakarta,Komunitastodays,- Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menuturkan saat ini bangsa Indonesia berada di tengah era disrupsi, di mana perkembangan zaman dan lompatan teknologi telah menggeser paradigma dalam memandang serta memaknai dunia di sekitarnya. Modernisasi dalam segala bidang, menuntut untuk senantiasa mampu menyesuaikan diri. Derasnya arus globalisasi yang ditopang oleh kemajuan teknologi informasi, membuat sekat-sekat teritorial antar negara menjadi tidak berarti.

“Di satu sisi, kemajuan teknologi dan modernitas zaman menghantarkan kita pada tatanan dunia baru yang menawarkan simplifikasi dan efisiensi pada semua lini kehidupan. Di sisi lain, nilai-nilai global yang datang silih berganti, menghadirkan tantangan bagi eksistensi nilai-nilai kearifan lokal dan budaya bangsa,” ujar Bamsoet saat pagelaran ‘Purnama Puisi di Atas Awan’ dalam rangka Lustrum ke-7 Universitas Semarang secara virtual dari Jakarta, Minggu malam (12/6/22).

Turut hadir antara lain Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Wakil Walikota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu, Pembina Yayasan Alumni Universitas Diponegoro Suharsoyo, Rektor Universitas Semarang Supari, serta Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi
Jawa Tengah Amir Machmud.

Ketua DPR RI ke-20 dan mantan Ketua Komisi III DPR RI bidang, Hukum, HAM, dan Keamanan ini menjelaskan, fenomena tersebut dapat dirasakan pada maraknya orientasi kehidupan global yang melekat dalam kehidupan berbangsa yang mengedepankan gaya hidup individualis, hedonis, serta materialistik. Akibatnya, nilai gotong-royong yang menjadi ciri khas kehidupan sosial bangsa Indonesia, dapat dirasakan kian meredup dan memudar.

“Tidak dapat kita pungkiri, bahwa globalisasi telah menjadi pintu masuk bagi paham-paham dan budaya asing. Globalisasi adalah keniscayaan zaman yang tidak mungkin kita hindari. Namun bukan berarti nilai-nilai global tersebut harus kita terima mentah-mentah, tanpa adanya filtrasi dan seleksi,” kata Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Kepala Badan Hubungan Penegakan Hukum, Pertahanan dan Keamanan KADIN Indonesia ini memaparkan, marginalisasi budaya bangsa tidak hanya dipengaruhi oleh faktor eksternal. Kurangnya kepedulian dan kepekaan untuk menjaga dan melestarikan budaya, juga turut berperan pada tergerusnya nilai-nilai kearifan lokal dan budaya bangsa.

“Jika tidak disikapi dengan sungguh-sungguh, maka bukan tidak mungkin, ketahanan budaya kita akan semakin rapuh. Lambat laun kita akan kehilangan satu demi satu akar kebudayaan kita. Entah karena terabaikan, entah karena diklaim oleh bangsa lain, atau hilang pelan-pelan ditelan pusaran peradaban global. Dalam konteks inilah, membangun ketahanan budaya menjadi penting,” tegas Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila dan Wakil Ketua Umum SOKSI ini menambahkan, Konstitusi secara tegas mengamanatkan untuk menjaga ketahanan budaya. Pasal 32 Ayat (1) menyebutkan ‘Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia, dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya’. Ketentuan tersebut mencerminkan pengakuan adanya dua sisi peran penting kebudayaan, yaitu dalam membentuk jati diri bangsa, dan dalam menyikapi modernitas dan laju peradaban zaman.

“Saya mengapresiasi langkah Universitas Semarang yang pada perayaan hari jadinya yang ke-35 tahun, mengusung tema mengenai Candi. Candi adalah aset pariwisata dan sekaligus rujukan sejarah peradaban bangsa. Di wilayah Jawa Tengah saja, ada sekitar 54 candi yang tersebar di 11 Kabupaten.

Semoga acara ini menjadi bagian dari sumbangsih akademik, dalam membangun komitmen kolektif segenap pemangku kepentingan, agar lebih ‘mencintai’ Candi karena hasrat ingin melestarikan legasi peradaban dan akar budaya yang terkandung di dalamnya. Bukan memaknai Candi hanya sebagai obyek eksploitasi,” pungkas Bamsoet. (*Riko)

Artikel ini telah dibaca 14 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Menaker Ajak Generasi Muda Amalkan Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari

1 June 2026 - 21:01 WIB

Akhiri Penantian 22 Tahun, Pemerintah dan DPR Setujui RUU PPRT Disahkan Jadi Undang-Undang

21 April 2026 - 17:50 WIB

Magang Nasional Batch I Segera Berakhir, Tahap Akhir Tentukan Sertifikat dan Uang Saku Peserta

19 April 2026 - 11:06 WIB

Menaker: Perjanjian Kerja Bersama Harus Dikawal, Tantangan Ada pada Implementasi

11 April 2026 - 14:48 WIB

Antusiasme Tinggi, Menaker Ajukan Tambahan 150 Ribu Kuota Magang Nasional 2026

11 April 2026 - 14:41 WIB

Kemnaker Siapkan Reward bagi Perusahaan yang Fasilitasi Peserta MagangHub Kantongi Sertifikasi Kompetensi

7 April 2026 - 09:38 WIB

Trending di Ekbis