Pulau-Pulau Batu, Komunitastodays.co, – Puluhan siswa di SDN 071123 dilaporkan mengalami dugaan keracunan makanan setelah mengonsumsi menu dari Program Makanan Bergizi Gratis (MBG), Selasa (24/2/2026) sekitar pukul 11.00 WIB.
Menu yang dibagikan kepada para siswa berupa ayam goreng, tempe goreng, dan nasi. Namun, tidak lama setelah menyantap makanan tersebut, sejumlah siswa mengeluhkan gejala seperti mual, muntah, sakit perut, sakit kepala, hingga sesak napas.
Berdasarkan data sementara, sebanyak 35 siswa menjadi korban dan saat ini menjalani perawatan di Puskesmas Pulau-Pulau Batu serta di Klinik St. Fidelis Pulau Tello.
Hasil investigasi sementara yang dilakukan oleh beberapa orang tua murid menyebutkan bahwa tempe yang diberikan diduga sudah basi dan berbau tidak sedap. Selain itu, muncul dugaan bahwa bahan makanan seperti tempe dan ayam telah disimpan selama beberapa minggu di tempat pendingin dalam kondisi yang tidak lagi layak konsumsi sebelum disalurkan ke sekolah-sekolah.
Program MBG yang merupakan bagian dari kebijakan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto sejatinya bertujuan untuk meningkatkan status gizi siswa. Namun, insiden ini justru memicu kekecewaan mendalam dari masyarakat Kepulauan Batu.
Orang tua murid, masyarakat setempat, serta anggota DPRD Dapil 6, Lulu Jatulo Sarumaha, mendesak pemerintah pusat untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program tersebut.
Mereka juga meminta agar penyaluran Makanan Bergizi Gratis dihentikan sementara di wilayah Kepulauan Batu, Kabupaten Nias Selatan, serta mendesak penghentian operasional dapur MBG (SPPG) yang dikelola oleh Yayasan SOHAHAU Cahaya Kasih di Kecamatan Pulau-Pulau Batu hingga ada hasil pemeriksaan resmi dari pihak berwenang.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola dapur MBG maupun instansi pemerintah terkait mengenai penyebab pasti insiden tersebut. Masyarakat berharap pemerintah segera mengambil langkah tegas agar kejadian serupa tidak kembali terulang dan keselamatan anak-anak sekolah tetap menjadi prioritas utama.(Adolf)









